KONSEP DASAR FOTOGRAFI
DASAR DASAR KAMERA
DASAR DASAR FOTOGRAFIAnda bingung mengenai makna dari berbagai istilah, seperti "shutter speed" (kecepatan rana), "aperture" (bukaan diafragma), "ISO speed" (kecepatan ISO), "exposure compensation" (kompensasi pencahayaan), "white balance"? Jangan takut - serial yang kami sajikan mengenai Dasar-Dasar Kamera akan membimbing Anda ke setiap konsep dasar fotografi yang penting ini. Tidak aja Anda akan mengenal kamera dengan lebih baik, tetapi juga memahami lebih baik tentang bagaimana menyiasati mode dan pengaturan kamera untuk mendapatkan bidikan yang mengagumkan!
1.VIEWFINDER
Apakah Viewfinder Eyepoint Height Penting?Hal ini mengacu ke jarak yang sepanjang-panjangnya antara viewfinder dan mata Anda. Sering kali ini diukur dari lensa eyepiece (yang paling dekat ke mata Anda), meskipun hal ini tergantung pada produsennya. Spesifikasi kamera yang mendetail seyogianya memberikan rincian selengkapnya. Sebagai contoh, pada EOS R5, eyepoint diukur “-1m-1 dari ujung eyepiece lens”. Jawabannya: Ya, memang penting jika Anda memakai kacamata. Eyepoint yang lebih tinggi akan membuat pandangan Anda lebih baik Apabila Anda memakai kacamata, jarak antara mata Anda dan viewfinder akan bertambah. Eyepoint yang terlalu pendek akan menyebabkan tepi luar gambar tampilan tampak seperti di-vinyet (ilustrasi kecil atau foto potret yang memudar ke latar belakangnya tanpa batas yang pasti). Memang tidak seburuk gambar di atas, tapi masih cukup memengaruhi pandangan Anda! Tetapi sisi baiknya adalah, Anda tidak akan mengalami masalah apa pun selama viewfinder eyepoint (titik mata jendela bidik) setidaknya seukuran 20mm. Faktanya, sebagian besar kamera saat ini memiliki eyepoint sekitar 23mm. Tetapi, ini juga tergantung pada kacamata yang Anda kenakan dan cara Anda memegang kamera, jadi sebaiknya Anda mencobanya sendiri. Ketinggian eyepoint seharusnya tidak memengaruhi Anda jika Anda memakai contact lense (lensa kontak) atau sama sekali tidak menggunakan alat bantu visual.
Apa yang harus dilakukan jika sudut gambar EVF terlihat di-vinyet?Pada kamera mirrorless Canon, ada dua format tampilan viewfinder: Pada Tampilan 1, yang merupakan default, gambar memenuhi seluruh panel tampilan viewfinder. Tampilan 2 menunjukkan gambar yang sedikit lebih kecil. Saya memakai kacamata, dan sering menggunakan Tampilan 2 pada EOS R5 saya. Meskipun gambar pratinjau sedikit lebih kecil, namun sudutnya tidak terpengaruh oleh vignetting yang disebabkan oleh pemakaian kacamata, dan masih cukup besar untuk memeriksa komposisi saya. Saya juga tidak perlu terlalu banyak mengubah garis pandang saya, jadi mata saya tidak mudah lelah selama pemotretan.
2.APERTUREHal pertama yang harus dipertimbangkan apabila mengambil foto dengan kamera digital yaitu efek aperture pada gambar Anda. Bagaimanakah hasil perubahan pada foto akhir bergantung pada aperture-nya, apakah dilebarkan atau disempitkan? Dalam artikel ini, kami mempelajari efek dari beragam aperture mengenai depth-of-field dengan membandingkan beberapa contoh, dan mempelajari tentang konsep f-stop. Aperture mengontrol jumlah cahaya yang memasuki lensa - Semakin besar aperture (yaitu, semakin kecil f-number), semakin besar bokeh-nya. - Semakin kecil aperture (yaitu, semakin besar f-number), semakin besar area dalam fokus (depth-of-field). - Jumlah cahaya yang memasuki sensor bisa dikontrol dengan melebarkan menyempitkan aperture. Aperture memungkinkan kita mengontrol jumlah cahaya yang memasuki lensa. Apabila aperture dilebarkan, semakin banyak cahaya yang bisa masuk, dan sebaliknya, apabila aperture disempitkan, semakin kurang cahaya yang bisa masuk ke lensa. Nilai numerik dalam perbedaan ukuran aperture, dikenal sebagai f-number. f-number standar yaitu: f/1.4, f/2, f/2.8, f/4, f/5.6, f/8… dll. Melebarkan aperture akan mengurangi f-number, sedangkan menyempitkan aperture akan menambahnya. Apabila f-number berubah, maka, yang berubah bukan hanya jumlah cahaya yang memasuki kamera, melainkan juga ukuran area dalam gambar yang tampak dalam fokus. Semakin kecil f-number, semakin kecil pula area gambar dalam fokus. Sebaliknya, semakin besar f-number, semakin besar pula area gambar dalam fokus. f-number besar menghasilkan foto yang tajam seluruhnya hingga ke latar belakang. Pada f-number terkecil, Anda mendapatkan "aperture maksimum". Hal ini memungkinkan masuknya sejumlah cahaya yang sebesar-besarnya, dan juga apabila Anda bisa mencapai bokeh yang paling menonjol ("terbesar").
3.SHUTTER SPEEDKetika memotret, Anda tentu ingin memahami tentang kecepatan rana serta efeknya yang baik pada foto Anda. Efek semacam apakah yang bisa Anda ciptakan pada kecepatan rana yang lebih pesat atau lebih lambat? Mari kita cermati efek dari kecepatan rana yang berbeda-beda dengan bantuan contoh berikut ini. Kecepatan rana membantu Anda "mengontrol" pergerakan subjek dalam foto Anda - Kecepatan rana yang lebih pesat, membekukan subjek yang sedang bergerak. - Kecepatan rana yang lebih lambat menciptakan efek buram gerakan dari pergerakan subjek. - Anda bisa menyesuaikan jumlah cahaya, dengan membuka/menutup rana. Kecepatan rana (juga: waktu pencahayaan) adalah lama waktu ketika rana terbuka dan cahaya memasuki sensor gambar di dalam kamera. Kecepatan rana ditunjukkan sebagai 1 det., 1/2 det., 1/4 det. ... 1/125 det. hingga 1/250 det., dll. Kecepatan rana yang lebih pesat mengurangi lama waktu di mana cahaya bisa masuk, sedangkan kecepatan rana yang lebih lambat, menambah panjang waktu ini. Oleh karena itu, semakin lambat kecepatan rana, semakin besar jumlah cahaya yang bisa masuk ke kamera. Kecepatan rana tidak hanya memungkinkan Anda mengubah jumlah cahaya, tapi juga bisa mengubah cara pergerakan subjek yang ditangkap. Pada kecepatan rana yang lebih pesat, Anda bisa membekukan sepenuhnya gerakan subjek yang sedang bergerak. Sebaliknya, apabila menggunakan kecepatan rana yang lebih lambat, Anda bisa memburamkan subjek pada arah gerakan, dan menangkap gerakan subjek, seperti air yang mengalir. Dengan kata lain, kecepatan rana memungkinkan Anda mengontrol cara pergerakan subjek fotografis yang diambil.
4. ISOKecepatan ISO memiliki peran yang sama penting seperti kecepatan aperture dan shutter mengenai efeknya pada pencahayaan. Sekarang, mari kita belajar lebih lanjut mengenai keuntungan dan kerugian meningkatkan kecepatan ISO.
Di lingkungan rendah cahaya, kita bisa meningkatkan kecepatan shutter (rana) dengan meninggikan kecepatan ISO- Dalam kisaran kecepatan ISO Normal, semakin rendah kecepatan ISO, semakin tinggi kualitas gambarnya. - Meningkatkan kecepatan ISO, memungkinkan kamera menetapkan shutter speed yang lebih cepat. - Noise terjadi pada kecepatan ISO yang lebih tinggi. Sederhananya, kecepatan ISO adalah kemampuan sensor gambar dalam meraba cahaya, direfleksikan sebagai nilai numerik. Katanya, pencahayaan menentukan baik-tidaknya sehelai gambar, tetapi kecepatan ISO juga merupakan faktor besar dalam menentukan pencahayaan. Jika aperture adalah lebar sinar cahaya yang melintas dan kecepatan shutter adalah waktu yang diperlukan sinar cahaya untuk melintas, maka kecepatan ISO menjelaskan kemampuan sensor gambar dalam meraba cahaya. Semakin tinggi nilainya, semakin sensitif kamera terhadap cahaya. Bahkan, dalam lingkungan gelap atau ketika mengambil gambar pemandangan malam, kita masih bisa mengambil gambar yang bagus dan cerah. Dengan kata lain, dengan berasumsi bahwa kita tidak memerlukan gambar yang lebih cerah, maka, kecepatan ISO yang lebih tinggi memungkinkan shutter speed yang lebih cepat. Hanya dengan menyesuaikan kecepatan ISO, kita meningkatkan shutter speed (kecepatan rana). Dengan melakukan hal itu, kita bisa mencegah keburaman yang disebabkan oleh goyangan kamera atau buram gerakan subjek. Kecepatan ISO yang lebih tinggi, juga memungkinkan kita untuk mencapai aperture yang lebih sempit tanpa mengorbankan kecerahan gambar, selama kita menggunakan shutter speed tetap (misalnya, dengan menggunakan mode Shutter-priority AD). Meskipun saya banyak sekali mengatakan bahwa kecepatan ISO merupakan fungsi yang berguna, namun juga memiliki kerugian. Semakin tinggi kecepatan ISO, semakin banyak noise (butiran) yang dihasilkan. Keseluruhan gambar terlihat penuh butiran. Ya, memang ada kamera dengan fitur pengurangan noise, tetapi sebagian besar fotografer akan tetap mencoba sebaik-baiknya untuk menjaga kecepatan ISO pada pengaturan yang tidak cukup mencegah keburaman akibat goyangan kamera. Biasanya, hal ini sebanyak mungkin mendekati kecepatan ISO dasar (kecepatan ISO Normal terendah), tetapi bisa lebih tinggi, tergantung tujuan fotografis dan kondisi pemotretan. Misalnya, Anda mungkin bisa berhasil dengan kecepatan ISO dasar apabila memotret jejak cahaya dan bangunan di malam hari. Namun demikian, Anda akan memerlukan kecepatan ISO yang lebih tinggi untuk mencegah goyangan kamera apabila melakukan pemotretan genggam di malam hari. Dan, jika Anda ingin menangkap bintang gemintang dalam bidikan Anda, bahkan jika Anda menggunakan tripod, Anda pasti akan memerlukan keduanya, kecepatan rana rendah dan kecepatan ISO yang sangat tinggi.








Makasih Mimin atas ilmunya ☺️
BalasHapusSama sama semoga manfaat
HapusBisa begruna juga HP R.O.G saya min ☺️☺️☺️
BalasHapusTypo yaaaa? 🥲
Hapus